Kamis, 06 November 2014

Suku Makassar

Suku Makassar adalah suku terbesar dan terkuat di antara Suku Bugis, Suku Mandar, dan Suku Toraja yang tinggal di Sulawesi Selatan. Orang-orang dari Suku Makassar biasa dipanggil "daeng". Keberadaan orang Makassar dapat ditemukan di Kota Makassar, Kabupaten Gowa, Takalar, Je`neponto, Bantaeng, Bulukumba, Selayar, Maros, Pangkep, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Tenggara. Dialek Suku Makassar berbeda-beda, tetapi masih dalam rumpun Bahasa Makassar. Jumlah populasi Suku Makassar lebih kurang dua juta jiwa.
Ciri khas orang Makassar adalah berani, ulet, pantang menyerah, terbuka, spontan, suka merantau, setia kawan, demokratis dalam memerintah, dan jaya di laut. Sebagian besar orang Makassar bekerja sebagai pelaut. Namun, setelah mengalami perkembangan masyarakat dan budaya. Beberapa orang di Makassar banyak yang bekerja sebagai petani, nelayan, pengusaha, pedagang, guru, dan berbagai bidang di sektor pemerintahan dan sektor swasta. Sistem kekerabatan dalam Suku Makassar adalah bilateral, yaitu garis keturunan ditarik dari ayah dan ibu. Dalam kebudayaan Suku Makassar, dikenal adanya sistem strata sosial, yaitu bangsawan (karaeng), rakyat jelata (tumaradeka), dan abdi (ata). Wanita Makassar tidak boleh menikah dengan pria dari kasta yang lebih rendah, khususnya wanita keturunan bangsawan. Perkawinan terbaik adalah perkawinan antara laki-laki dan perempuan dengan derajat yang sama. Namun saat ini, prinsip kesepadanan ini sudah mulai bergeser.
Dari segi bahasa, Bahasa Makassar sudah banyak berubah karena terpengaruh bahasa-bahasa lain, seperti Bahasa Bugis dan Bahasa Melayu. Penutur Bahasa Makassar yang asli dapat ditemukan di daerah Gowa bagian Selatan, tepatnya di kaki Gunung Lompobattang. Di desa Lompobattang ini, keaslian Bahasa Makassar masih terjamin karena belum terkontaminasi perkembangan Bahasa modern maupun bahasa-bahasa suku yang lain. Selain itu, penutur Bahasa Makassar murni juga bisa ditemukan di daerah Gowa (Sungguminasa, Lembang Bu`ne, Malino dan Malakaji), Takalar, Jeneponto (Bontosunggu, Tolo` dan Rumbia), Bantaeng (Dammpang), dan Bulukumba (Tanete).
Dalam hal kepercayaan, masyarakat Suku Makassar pada zaman dahulu menganut kepercayaan animisme, yaitu Turei A’rana (kehendak yang tinggi). Orang Makassar percaya kepada dewa yang disebut Dewata Seuwae (dewa yang tunggal) atau Turei A`rana (kehendak yang tinggi). Orang Makassar purba percaya adanya dewa yang bertakhta di tempat-tempat tertentu, seperti kepercayaan mereka tentang dewa yang berdiam di Gunung Latimojong. Dewa tersebut mereka sebut dengan nama Dewata Mattanrue. Dihikayatkan bahwa dewa tersebut kawin dengan Enyi’li’timo’, kemudian melahirkan Patotoe. Kemudian, Dewa Patotoe kawin dengan Palingo dan melahirkan Batara Guru. Batara Guru dipercaya oleh sebagian masyarakat Sulawesi Selatan sebagai Dewa Penjelajah, yang telah menjelajahi seluruh kawasan Asia dan bermarkas di puncak Himalaya. Kira-kira satu abad sM, Batara Guru menuju ke Cerekang Malili dan membawa empat kasta. Keempat kasta tersebut adalah kasta Puang, kasta Pampawa Opu, kasta Attana Lang, dan kasta orang kebanyakan.
Setelah itu, masuklah agama Islam ke dalam komunitas masyarakat Makassar. Karena itu, mayoritas orang Makassar memeluk agama Islam. Sejak mereka memeluk Islam, segala bentuk kepercayaan agama purba mereka pun ditinggalkan. Agama Islam telah hadir di kalangan masyarakat orang Makassar sejak berabad-abad yang lalu. Mereka adalah penganut Islam yang kuat. Agama Islam menjadi agama rakyat bagi Suku Makassar sehingga beberapa tradisi adat, budaya, dan kehidupan sehari-hari Suku Makassar banyak dipengaruhi oleh tradisi dan budaya yang mengandung unsur islami.

Perbedaan Suku Bugis Dengan Suku Makassar

Beberapa malam yang lalu, sebuah stasiun televisi swasta menggelar telekuis interaktif. Pemirsa dari seluruh pelosok Indonesia bisa menjadi peserta, cukup dengan menelepon ke nomer yang tertera di running teks. Penelepon pertama seorang Ibu dari Makassar.
Sebagaimana sudah sangat familiar di televisi nasional, jika ada pemirsa dari Makassar, maka langsung disapa dengan “Aga Kareba?” (apa kabar). Si penelepon lalu menjawab “Kareba Madeceng”. Sontak presenter cantik pembawa acara kuis itu keheranan, karena jawaban yang dia tunggu adalah “baji-baji ji”.
Presenter ini lalu mengira si penelepon kabarnya kurang baik. Saya yang menyaksikan itu di televisi, hanya ketawa-ketawa kacci (tersenyum kecut). Sebagai putra asli Sulawesi Selatan, mendengar jawaban ibu yang menelepon itu, saya bisa langsung tahu kalau dia bukan orang Makassar tapi orang Bugis.
Dalam hal menanyakan kabar seseorang, baik Bugis maupun Makassar menggunakan sapaan aga kareba tapi untuk menjawab berbeda. Makassar menjawab ”baji-baji ji” (baik-baik saja) dan Bugis menjawab ”kareba madeceng” (kabar baik).
» » » » » » » » » »
Pada sebuah kegiatan nasional mahasiswa di Universitas Andalas, Padang. Seorang delegasi dari Universitas Lampung bertanya ke saya “Daeng, Juku Eja apaan?”. Kebetulan waktu itu saya memakai syal bertuliskan “Tim Juku Eja, PSM Makassar”.
Saya jadi bingung karena memang tidak tahu. Meski sudah hampir sepuluh tahun menetap di Makassar, Bahasa Makassar saya sangat pas-pasan. Untunglah salah seorang teman delegasi dari UNHAS waktu itu langsung menjawab kalau Juku Eja artinya Ikan Merah. Ikan merupakan lauk sehari-hari orang Makassar yang mempunyai nilai gizi tinggi yang menyimbolkan kekuatan, sedangkan merah adalah warna kebesaran PSM.
» » » » » » » » » »
Jika terjadi tawuran atau bentrok pada demo mahasiswa Makassar. Maka teman-teman saya dari luar Sulawesi Selatan pasti akan mengirim sms yang isinya tidak jauh-jauh dari “Kenapa sih mahasiswa Makassar kalau tidak tawuran, ya demo anarkis?”. Saya lalu menanggapi dengan enteng “Tau ah, saya kan mahasiswa Bugis, hehehe….”.
Tentu itu hanya sebuah apologi untuk menghindar dari pertanyaan teman-teman di luar sana. Karena rasionalisasi apapun yang saya berikan, pasti dibantah dan dituduh hanya mencari pembenaran. Tapi jika dijawab enteng seperti itu, teman saya akan ikut tersenyum dan pertanyaan soal aksi mahasiswa Makassar tidak lagi berlanjut.
Cerita sederhana di atas memperlihatkan kalau orang di luar Sulawesi Selatan sulit membedakan antara orang Bugis dan Makassar. Padahal Bugis dan Makassar adalah dua etnis yang berbeda. Entah kenapa pula Bugis identik dengan Makassar (begitupun sebaliknya), sehingga sering kita dengar penyebutannya disertakan jadi Bugis-Makassar.
Banyak tokoh asal Sulawesi Selatan yang berkiprah di tingkat nasional, dalam suatu kesempatan disebut orang Bugis dan pada kesempatan lain disebut orang Makassar. Sederhananya, jika anda mengaku berasal dari Sulawesi Selatan maka orang di luar akan memvonis anda sebagai orang Bugis-Makassar.
Tentu saya tidak bermaksud membuat dikotomi antara Etnis Bugis dan Etnis Makassar yang sekarang sudah membaur. Cuma saya tidak mengerti, kenapa hanya Bugis-Makassar? Bukankah di Sulawesi Selatan ada empat etnis besar? Bugis, Makassar, Toraja dan Mandar (Sekarang mekar Jadi Sulawesi Barat).
Maka dalam hal ini, saya memberi apresiasi untuk para seniman yang telah mengkombain keempatnya dalam sebuah tarian yang sekarang dikenal dengan nama “tarian empat etnis”. Setidaknya bisa menjadi simbol pemersatu empat etnis besar di Sulawesi Selatan. Sebenarnya saya hendak mengatakan, Sulawesi Selatan itu bukan hanya Bugis-Makassar tapi Bugis-Makassar-Toraja-Mandar dan beberapa etnis lain.
Satu lagi, di Kompasiana terkadang saya dipanggil “Daeng”, yah no problem. Tapi untuk sekedar diketahui, kalau di kampung halaman saya yang dulu menjadi teritorial dua kerajaan Bugis, Kerajaan Sidenreng dan Kerajaan Rappang. Panggilan sehari-hari untuk orang yang lebih tua itu “Deng” (tidak pake A).