Kamis, 06 November 2014

Maudu Lompoa Cikoang

maudu lompoa


TAKALAR – Peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW 1433 H sudah menjadi tradisi yang diperingati oleh keluarga Besar “Sayyek” yang dirangkaikan dengan menggelar Maudu Lompoa Ri Cikoang, tepatnya di Desa Cikoang, Kecamatan Mangngarabombang,Kabupaten Takalar, Sabtu (9/2).
Acara yang selalu digelar tiap tahun dan menjadi tradisi ini sudah termasuk dalam jajaran event nasional karena sudah bekerjasama dengan pemerintah setempat. Ini disebabkan peringatan Maudu Lompoa Ri Cikoang Takalar, merupakan peristiwa sakral yang selalu di gelar tiap tahunnya.
“Sejak 1990 acara ini sudah menjadi event nasional karena sudah bekerja dengan pihak pemerintah. Dan seperti ditempat-tempat lain juga acara ini akan diwarnai dengan berbagai sajian-sajian seperti beras, telur dan ayam. Karena ini semua memang punya makna tersendiri,” jelas Rifwansyah Ketua Panitia acara.
Menurutnya, segala dipersiapan secara matang sehingga acara ini bisa menarik wisatawan baik itu dalam negeri maupun luar negeri tiap tahunnya.
Prof Musliar Kasim, selaku wakil Menteri Pendidikan Nasional, sangat tertarik dan mengapresiasi budaya Maudu Lompoa ri Cikoang ini.
“Acara Maulid seperti ini sangat jarang dilakukan oleh daerah-daerah lain. Apa lagi ini sudah menjadi tradisi jadi ini patut dipertahankan keberadaannya. Bahkan pihak kami akan segera melakukan riset terkait acara ini,” tuturnya saat menghadiri acara kemarin.
Tidak ketinggalan pula, Bupati Takalar, DR. H. Burhanuddin B. SE. M.Si serta jajarannya menghadiri acara yang dipadati oleh warga setempat dan pengunjung dari kabupaten lain. Terlihat juga banyak komunitas-komunitas fotografer yang menjadikan event ini sebagai ajang hunting foto sebagai koleksi bahkan bahan untuk pameran foto nantinya
- See more at: http://rakyatsulsel.com/maudu-lompoa-ri-cikoang-sudah-menjadi-tradisi.html#sthash.gO8hIpYr.dpuf

Tradisi Mappaccing


Mappacci adalah kata kerja dari ‘mapaccing’ yang berarti bersih. Terkadang, di beberapa daerah Bugis, mappacci dikenal dengan sebutan mappepaccing. Dalam bahasa Bugis, mappacci/mappepaccing merupakan suatu kegiatan yang bertujuan untuk membersihkan segala sesuatu. Mappepaccing bola sibawa lewureng, yang berarti membersihkan rumah dan tempat tidur. Adapun kata perintahnya ‘paccingi’ yang berarti bersifat menyuruh atau memerintahkan untuk membersihkan. Paccingi kasoro’mu berarti bersihkan kasurmu. Kebanyakan kata kerja dalam bahasa bugis diawali dengan kata ‘Ma’, seperti; maggolo (main bola), mattinju (bertinju), mallaga (berkelahi), mammusu’ (bertempur), makkiana’ (melahirkan), dsb. Kata mapaccing dan mappacci merupakan dua kata yang kalau dilihat sekilas agaknya sama, namun memiliki arti yang berbeda. Yang pertama merupakan kata sifat dan yang kedua kata kerja. Kita sering mendengarkan penggunaan kata ini dalam kehidupan sehari-hari, khususnya di masyakat Bugis.

Perkembangan selanjutnya, istilah mappaccing lebih sering dikaitkan dengan salah satu rangkain kegiatan dalam proses perkawinan masyarakat Bugis-Makassar. Mappaccing lebih dikenal oleh masyarakat sebagai salah satu syarat yang wajib dilakukan oleh mempelai perempuan, terkadang sehari, sebelum pesta walimah pernikahan. Biasanya, acara mappaccing dihadiri oleh segenap keluarga untuk meramaikan prosesi yang sudah menjadi turun temurun ini. Dalam prosesi mappaccing, terlebih dahulu pihak keluarga melengkapi segala peralatan yang harus dipenuhi, seperti; Pacci (biasanya berasal dari tanah arab, namun ada pula yang berasal dari dalam negeri), daun kelapa, daun pisang, bantal, sarung sutera, lilin, dll. Tujuan dari mappacci adalah untuk membersihkan jiwa dan raga calon pengantin sebelum mengarungi bahtera rumah tangga.

Tidak diketahui dengan pasti, sejarah awal kapan kegiatan mappacci ditetapkan sebagai kewajiban adat (suku Bugis/Makassar) sebelum pesta perkawinan. Tapi, menurut kabar yang berkembang dikalangan generasi tua, prosesi mappacci telah mereka warisi secara turun-menurun dari nenek moyang kita, bahkan sebelum kedatangan agama Islam dan Kristen di tanah Bugis-Makassar. Oleh karena itu, kegiatan ini sudah menjadi budaya yang mendarah daging dan sepertinya sulit terpisahkan dari ritual perkawinan Bugis-Makassar. Mappacci menjadi salah satu syarat dan unsur pelengkap dalam pesta perkawinan di kalangan masyarakat Bugis-Makassar. Namun, ketika Islam datang, prosesi ini mengalami sinkretisme atau berbaur dengan budaya Islam. Bahkan Islam sebagai agama mayoritas suku Bugis-Makassar telah mengamini prosesi ini, melalui alim ulama yang biasa digelar Anregurutta.

Sekalipun Mappacci bukan merupakan suatu kewajiban agama dalam Islam, tapi mayoritas ulama di daerah Bugis-Makassar menganggapnya sebagai sennu-sennungeng ri decengnge (kecintaan akan kebaikan). Yang terjadi kemudian, pemuka agama berusaha untuk mencari legalitas atau dalil mappacci dalam kitab suci untuk memperkuat atau mengokohkan budaya ini. Sebagai contoh, salah satu ulama Islam tersohor di Bone, Alm. AGH. Daud Ismail, berusaha menafsirkan dan memaknai prosesi mappacci beserta alat-alat yang sering digunakan dalam prosesi ini. Sebelum prosesi Mappacci, biasanya calon pengantin perempuan dihias dengan pakaian pengantin khas Bugis-Makassar. Selanjutnya, calon pengantin diarak duduk di atas kursi (namun ada pula yang duduk di lantai) untuk memulai prosesi mappacci. Di depan calon pengantin perempuan, diletakkan sebuah bantal yang sering ditafsirkan dan dianggap sebagai simbol kehormatan. Bantal sering diidentikkan dengan kepala, yang menjadi titik sentral bagi aktivitas manusia. Diharapkan dengan simbol ini, calon pengantin lebih mengenal dan memahami akan identitas dirinya, sebagai mahluk yang mulia dan memiliki kehormatan dari Sang Pencipta (Puangge:Bugis).
Di atas bantal, biasanya diletakkan sarung sutera yang jumlahnya tersusun dengan bilangan ganjil. Sebagian ulama menyamakan susunan sarung sutera ganjil, dengan Hadis Nabi Saw yang yang berbunyi; Allah itu ganjil dan suka yang ganjil. Sarung sendiri ditafsirkan sebagai sifat istikamah atau ketekunan. Sifat istikamah sendiri, telah dipraktikkan oleh sang pembuat sarung sutera. Tiap hari, mereka harus menenun dan menyusun sehelai demi sehelai benang, hingga menjadi sebuah sarung yang siap pakai. Dengan sikap istikamah atau ketekunan ini, diharapkan calon pengantin dapat mengambil pelajaran dan hikmah dari sang pembuat sarung sutera untuk diamalkan dalam kehidupan rumah tangga. Terkadang juga, sarung dianggap sebagai simbol penutup aurat bagi masyarakat Bugis-Makassar. Jadi, diharapkan agar calon mempelai perempuan senantiasa menjaga harkat dan martabatnya, tidak menimbulkan rasa malu (siri’) di tengah-tengah masyarakat kelak.

Terkadang, diatas sarung sutera diletakkan daun pisang. Daun pisang memang tidak memilik nilai jual yang tinggi, tapi memiliki makna yang mendalam bagi manusia pada umumnya. Salah satu sifat dari pisang adalah tidak akan mati atau layu sebelum muncul tunas yang baru. Hal ini selaras dengan tujuan utama pernikahan, yaitu; melahirkan atau mengembangkan keturunan. Karakter lain dari pisang, yaitu; satu pohon pisang, dimungkinkan untuk dinikmati oleh banyak orang. Dengan perkawinan, diharapkan calon pengantin berguna dan membawa mampaat bagi orang banyak.

Diatas daun pisang, terkadang diletakkan daun nangka. Daun nangka tentu tidak memiliki nilai jual, tapi menyimpan makna yang mendalam. Anregurutta di Bone pernah berkata dalam bahasa Bugis; Dua mitu mamala ri yala sappo ri lalenna atuwongnge, iyanaritu; unganna panasae (lempuu) sibawa belona kalukue (paccing). Maksudnya, dalam mengarungi kehidupan dunia, ada dua sifat yang harus kita pegang, yaitu; Kejujuran dan Kebersihan. Jadi, dalam mengarungi bahtera rumah tangga, calon pengantin senantiasa berpegang pada kejujuran dan kebersihan yang meliputi lahir dan batin. Dua modal utama inilah yang menjadi pegangan penting, bagi masyarakat Bugis-Makassar dalam mengarungi bahtera rumah tangga.
Diatas daun pisang, terkadang juga diletakkan gula merah dan kelapa muda. Dalam tradisi masyarakat Bugis-Makassar, menikmati kelapa muda, terasa kurang lengkap tanpa adanya gula merah. Sepertinya, kelapa muda sudah identik dengan gula merah untuk mencapai rasa yang nikmat. Seperti itulah kehidupan rumah tangga, diharapkan suami-istri senantiasa bersama, untuk saling melengkapi kekurangan dan menikmati pahit manisnya kehidupan duniawi. Terakhir, mappacci juga dilengkapi dengan lilin sebagai simbol penerang. Konon, zaman dahulu, nenek moyang kita memakai Pesse’(lampu penerang tradisional yang terbuat dari kotoran lebah). Maksud dari lilin, agar suami-istri mampu menjadi penerang bagi masyarakat di masa yang akan datang. Masih banyak lagi peralatan prosesi, yang biasa dipakai oleh masyarakat, sesuai dengan adat dan kebiasaan mereka. Namun, secara umum peralatan yang telah disebutkan diatas, standar yang sering digunakan dibeberapa daerah Bugis-Makassar.

Suku Makassar

Suku Makassar adalah suku terbesar dan terkuat di antara Suku Bugis, Suku Mandar, dan Suku Toraja yang tinggal di Sulawesi Selatan. Orang-orang dari Suku Makassar biasa dipanggil "daeng". Keberadaan orang Makassar dapat ditemukan di Kota Makassar, Kabupaten Gowa, Takalar, Je`neponto, Bantaeng, Bulukumba, Selayar, Maros, Pangkep, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Tenggara. Dialek Suku Makassar berbeda-beda, tetapi masih dalam rumpun Bahasa Makassar. Jumlah populasi Suku Makassar lebih kurang dua juta jiwa.
Ciri khas orang Makassar adalah berani, ulet, pantang menyerah, terbuka, spontan, suka merantau, setia kawan, demokratis dalam memerintah, dan jaya di laut. Sebagian besar orang Makassar bekerja sebagai pelaut. Namun, setelah mengalami perkembangan masyarakat dan budaya. Beberapa orang di Makassar banyak yang bekerja sebagai petani, nelayan, pengusaha, pedagang, guru, dan berbagai bidang di sektor pemerintahan dan sektor swasta. Sistem kekerabatan dalam Suku Makassar adalah bilateral, yaitu garis keturunan ditarik dari ayah dan ibu. Dalam kebudayaan Suku Makassar, dikenal adanya sistem strata sosial, yaitu bangsawan (karaeng), rakyat jelata (tumaradeka), dan abdi (ata). Wanita Makassar tidak boleh menikah dengan pria dari kasta yang lebih rendah, khususnya wanita keturunan bangsawan. Perkawinan terbaik adalah perkawinan antara laki-laki dan perempuan dengan derajat yang sama. Namun saat ini, prinsip kesepadanan ini sudah mulai bergeser.
Dari segi bahasa, Bahasa Makassar sudah banyak berubah karena terpengaruh bahasa-bahasa lain, seperti Bahasa Bugis dan Bahasa Melayu. Penutur Bahasa Makassar yang asli dapat ditemukan di daerah Gowa bagian Selatan, tepatnya di kaki Gunung Lompobattang. Di desa Lompobattang ini, keaslian Bahasa Makassar masih terjamin karena belum terkontaminasi perkembangan Bahasa modern maupun bahasa-bahasa suku yang lain. Selain itu, penutur Bahasa Makassar murni juga bisa ditemukan di daerah Gowa (Sungguminasa, Lembang Bu`ne, Malino dan Malakaji), Takalar, Jeneponto (Bontosunggu, Tolo` dan Rumbia), Bantaeng (Dammpang), dan Bulukumba (Tanete).
Dalam hal kepercayaan, masyarakat Suku Makassar pada zaman dahulu menganut kepercayaan animisme, yaitu Turei A’rana (kehendak yang tinggi). Orang Makassar percaya kepada dewa yang disebut Dewata Seuwae (dewa yang tunggal) atau Turei A`rana (kehendak yang tinggi). Orang Makassar purba percaya adanya dewa yang bertakhta di tempat-tempat tertentu, seperti kepercayaan mereka tentang dewa yang berdiam di Gunung Latimojong. Dewa tersebut mereka sebut dengan nama Dewata Mattanrue. Dihikayatkan bahwa dewa tersebut kawin dengan Enyi’li’timo’, kemudian melahirkan Patotoe. Kemudian, Dewa Patotoe kawin dengan Palingo dan melahirkan Batara Guru. Batara Guru dipercaya oleh sebagian masyarakat Sulawesi Selatan sebagai Dewa Penjelajah, yang telah menjelajahi seluruh kawasan Asia dan bermarkas di puncak Himalaya. Kira-kira satu abad sM, Batara Guru menuju ke Cerekang Malili dan membawa empat kasta. Keempat kasta tersebut adalah kasta Puang, kasta Pampawa Opu, kasta Attana Lang, dan kasta orang kebanyakan.
Setelah itu, masuklah agama Islam ke dalam komunitas masyarakat Makassar. Karena itu, mayoritas orang Makassar memeluk agama Islam. Sejak mereka memeluk Islam, segala bentuk kepercayaan agama purba mereka pun ditinggalkan. Agama Islam telah hadir di kalangan masyarakat orang Makassar sejak berabad-abad yang lalu. Mereka adalah penganut Islam yang kuat. Agama Islam menjadi agama rakyat bagi Suku Makassar sehingga beberapa tradisi adat, budaya, dan kehidupan sehari-hari Suku Makassar banyak dipengaruhi oleh tradisi dan budaya yang mengandung unsur islami.

Perbedaan Suku Bugis Dengan Suku Makassar

Beberapa malam yang lalu, sebuah stasiun televisi swasta menggelar telekuis interaktif. Pemirsa dari seluruh pelosok Indonesia bisa menjadi peserta, cukup dengan menelepon ke nomer yang tertera di running teks. Penelepon pertama seorang Ibu dari Makassar.
Sebagaimana sudah sangat familiar di televisi nasional, jika ada pemirsa dari Makassar, maka langsung disapa dengan Aga Kareba? (apa kabar). Si penelepon lalu menjawab Kareba Madeceng. Sontak presenter cantik pembawa acara kuis itu keheranan, karena jawaban yang dia tunggu adalah “baji-baji ji”.
Presenter ini lalu mengira si penelepon kabarnya kurang baik. Saya yang menyaksikan itu di televisi, hanya ketawa-ketawa kacci (tersenyum kecut). Sebagai putra asli Sulawesi Selatan, mendengar jawaban ibu yang menelepon itu, saya bisa langsung tahu kalau dia bukan orang Makassar tapi orang Bugis.
Dalam hal menanyakan kabar seseorang, baik Bugis maupun Makassar menggunakan sapaan aga kareba tapi untuk menjawab berbeda. Makassar menjawab ”baji-baji ji” (baik-baik saja) dan Bugis menjawab ”kareba madeceng” (kabar baik).
» » » » » » » » » »
Pada sebuah kegiatan nasional mahasiswa di Universitas Andalas, Padang. Seorang delegasi dari Universitas Lampung bertanya ke saya “Daeng, Juku Eja apaan?”. Kebetulan waktu itu saya memakai syal bertuliskan “Tim Juku Eja, PSM Makassar”.
Saya jadi bingung karena memang tidak tahu. Meski sudah hampir sepuluh tahun menetap di Makassar, Bahasa Makassar saya sangat pas-pasan. Untunglah salah seorang teman delegasi dari UNHAS waktu itu langsung menjawab kalau Juku Eja artinya Ikan Merah. Ikan merupakan lauk sehari-hari orang Makassar yang mempunyai nilai gizi tinggi yang menyimbolkan kekuatan, sedangkan merah adalah warna kebesaran PSM.
» » » » » » » » » »
Jika terjadi tawuran atau bentrok pada demo mahasiswa Makassar. Maka teman-teman saya dari luar Sulawesi Selatan pasti akan mengirim sms yang isinya tidak jauh-jauh dari “Kenapa sih mahasiswa Makassar kalau tidak tawuran, ya demo anarkis?”. Saya lalu menanggapi dengan enteng “Tau ah, saya kan mahasiswa Bugis, hehehe….”.
Tentu itu hanya sebuah apologi untuk menghindar dari pertanyaan teman-teman di luar sana. Karena rasionalisasi apapun yang saya berikan, pasti dibantah dan dituduh hanya mencari pembenaran. Tapi jika dijawab enteng seperti itu, teman saya akan ikut tersenyum dan pertanyaan soal aksi mahasiswa Makassar tidak lagi berlanjut.
Cerita sederhana di atas memperlihatkan kalau orang di luar Sulawesi Selatan sulit membedakan antara orang Bugis dan Makassar. Padahal Bugis dan Makassar adalah dua etnis yang berbeda. Entah kenapa pula Bugis identik dengan Makassar (begitupun sebaliknya), sehingga sering kita dengar penyebutannya disertakan jadi Bugis-Makassar.
Banyak tokoh asal Sulawesi Selatan yang berkiprah di tingkat nasional, dalam suatu kesempatan disebut orang Bugis dan pada kesempatan lain disebut orang Makassar. Sederhananya, jika anda mengaku berasal dari Sulawesi Selatan maka orang di luar akan memvonis anda sebagai orang Bugis-Makassar.
Tentu saya tidak bermaksud membuat dikotomi antara Etnis Bugis dan Etnis Makassar yang sekarang sudah membaur. Cuma saya tidak mengerti, kenapa hanya Bugis-Makassar? Bukankah di Sulawesi Selatan ada empat etnis besar? Bugis, Makassar, Toraja dan Mandar (Sekarang mekar Jadi Sulawesi Barat).
Maka dalam hal ini, saya memberi apresiasi untuk para seniman yang telah mengkombain keempatnya dalam sebuah tarian yang sekarang dikenal dengan nama “tarian empat etnis”. Setidaknya bisa menjadi simbol pemersatu empat etnis besar di Sulawesi Selatan. Sebenarnya saya hendak mengatakan, Sulawesi Selatan itu bukan hanya Bugis-Makassar tapi Bugis-Makassar-Toraja-Mandar dan beberapa etnis lain.
Satu lagi, di Kompasiana terkadang saya dipanggil “Daeng”, yah no problem. Tapi untuk sekedar diketahui, kalau di kampung halaman saya yang dulu menjadi teritorial dua kerajaan Bugis, Kerajaan Sidenreng dan Kerajaan Rappang. Panggilan sehari-hari untuk orang yang lebih tua itu “Deng” (tidak pake A).